Vacum Extraction

41
BAB I STATUS PASIEN A. IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. A Usia : 25 tahun Agama : Islam Suku Bangsa : Sunda R. Pendidikan: SMP Pekerjaan : IRT Nama : Tn. T Usia : 30 tahun Suku Bangsa : Sunda Agama : Islam R. Pendidikan: SMP Pekerjaan : Petani Alamat : Bojong Koneng RT 03/03, Desa Cikaroya, Kec. Warung Kondang, Kab. Cianjur. Status : Menikah Tgl Masuk : 26 Maret 2013, pukul : 22.00 WIB B. ANAMNESIS Keluhan Utama: Kala 2 memanjang RPS : G2P1A0 merasa hamil 9 bulan, mengeluh mules yang semakin sering dan kuat sejak pukul 15.00 WIB, keluar cairan banyak dari jalan lahir, berwarna jernih, tidak berbau, bercampur lendir dan sedikit darah sejak pukul 16.30 WIB. OS telah dipimpin meneran sejak pukul 17.00 WIB oleh paraji. Keluhan 1

Transcript of Vacum Extraction

Page 1: Vacum Extraction

BAB I

STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. A

Usia : 25 tahun

Agama : Islam

Suku Bangsa : Sunda

R. Pendidikan : SMP

Pekerjaan : IRT

Nama : Tn. T

Usia : 30 tahun

Suku Bangsa : Sunda

Agama : Islam

R. Pendidikan : SMP

Pekerjaan : Petani

Alamat : Bojong Koneng RT 03/03, Desa Cikaroya,

Kec. Warung Kondang, Kab. Cianjur.

Status : Menikah

Tgl Masuk : 26 Maret 2013, pukul : 22.00 WIB

B. ANAMNESIS

Keluhan Utama : Kala 2 memanjang

RPS : G2P1A0 merasa hamil 9 bulan, mengeluh mules yang semakin

sering dan kuat sejak pukul 15.00 WIB, keluar cairan banyak dari

jalan lahir, berwarna jernih, tidak berbau, bercampur lendir dan

sedikit darah sejak pukul 16.30 WIB. OS telah dipimpin meneran

sejak pukul 17.00 WIB oleh paraji. Keluhan disertai demam

disangkal, gerakan anak masih dirasakan ibu.

RPD : Riwayat hipertensi dan diabetes mellitus disangkal

RPK : Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama

RPO : Tidak pernah berobat

R.Psikososial : Pola makan teratur, riwayat merokok dan konsumsi minuman

beralkohol disangkal

1

Page 2: Vacum Extraction

C. RIWAYAT OBSTETRI

Riwayat Kehamilan

1. G2P1A0

2. HPHT : 30 Juni 2012

3. TP : 07 April 2013

4. PNC : Bidan, 4 kali

5. KB : Menggunakan KB suntik 3 bulan selama 3 tahun

6. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas

N

o.

Tahun

Partus

Tempat

Partus

Umur

Hamil

Jenis

Persalinan

Penolong

Persalinan

Penyulit Anak

Kel/BB

Ket

.

1 2009 Rumah 9 Bln Spontan Paraji - 2300 g H-

2 Hamil ini

Riwayat Haid

1. Menarche : Usia 13 tahun

2. Siklus haid : 28 hari teratur

3. Lama haid : 7 hari

4. Nyeri Haid : Disangkal

Riwayat Menikah

1. ♀, 18 tahun, SMP, Ibu rumah tangga

2. ♂, 23 tahun, SMP, Petani

3. Menikah sah, 1 kali, lama pernikahan 7 tahun

2

Page 3: Vacum Extraction

D. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Tampak sakit ringan

Kesadaran : Komposmentis

Tanda-tanda Vital

TD : 130/80 mmHg

Nadi : 88x/menit (kuat, cukup, regular)

RR : 20 x/menit

Suhu : 36,7ºC

Antropometri

TB : Tidak diukur

BB : Tidak ditimbang

E. STATUS GENERALIS

Kepala : Normochepal

Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks pupil (+)/(+),

isokor ka=ki

Leher : Pembesaran KGB (-/-), pembesaran tiroid (-/-).

Toraks : Normochest dan gerak simetris

Paru-paru : VF simetris (+/+), vesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing (-/-)

Jantung : Bunyi jantung I/II murni regular, gallop (-), murmur (-)

Abdomen : (Lihat status obstetri)

Ekstremitas :

Ekstr. Atas : Akral hangat , RCT< 2 detik, edema (-), sianosis (-)

Ekstr. Bawah : Akral hangat , RCT< 2 detik, edema (-), sianosis (-)

F. STATUS OBSTETRI

Inspeksi

1. Kepala/Muka : Chloasma gravidarum (-)

2. Thorax : Hiperpigmentasi areola mamae (+), colostrum (-)

3. Abdomen : Cembung tegang, striae gravidarum (+), linea nigra (+),

bekas operasi (-)

Palpasi

1. TFU : 31 cm

3

Page 4: Vacum Extraction

2. LP : 95 cm

3. Leopold I : Teraba massa lunak, kurang bundar, tidak melenting

4. Leopold II : Bagian memanjang ada disebelah kanan, dan bagian kecil

disebelah kiri

5. Leopold III : Teraba massa keras, bundar, melenting

6. Leopold IV : Divergen

7. Letak Anak : Letak kepala, 1/5, punggung kanan

8. His : 3-4 kali/10’/40”

9. TBBA : 2500 gram

Auskultasi

DJJ : 144 kali/menit

Pemeriksaan Luar Genitalia

1. Vulva/vagina : Tidak ada kelainan

2. Perineum : Tidak ada kelainan

Pemeriksaan Dalam

1. Vagina : Tidak ada kelainan

2. Portio : Tidak teraba

3. Ostium : Pembukaan lengkap

4. Ketuban : (-) , sisa cairan jernih bercampur sedikit lendir dan darah

5. Kepala : St +3, caput (+), UUK kanan depan

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG, Hasil Laboratorium ( 26 Maret 2013)

H. RESUME

Seorang

wanita 25 tahun

G2P1A0 diketahui hamil 9 bulan merasa mules yang semakin sering dan kuat sejak

pukul 15.00 WIB, keluar cairan banyak dari jalan lahir (+), berwarna jernih, tidak

4

Pemeriksaan Nilai Rujukan

Hemoglobin 10.0 12,0-16,0 g/dL

Trombosit 271 150-450 103/µL

Leukosit 27,5 4,8-1,8 103/µL

Hematokrit 30,8 37,0-47,0 %

Protein Urin - -

Page 5: Vacum Extraction

berbau, bercampur lendir (+) dan darah (+) sejak 6 jam SMRS. OS telah dipimpin

meneran sejak 5 jam SMRS oleh paraji. Keluhan disertai demam disangkal, gerak anak

masih dirasakan ibu.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Tampak sakit ringan, Kesadaran: Composmentis, kooperatif

Status generalis : T (130/80 mmHg), N (88x/m), R (20x/m), S ( 36,7oC)

Status Obstetri

Pemeriksaan Luar:

Tanda kehamilan (+) ; pemeriksaan luar genitalia tidak ada kelainan, TFU 31

cm, LP 95 cm, Leopold I teraba massa lunak, kurang bundar, tidak melenting, Leopold

II bagian memanjang ada disebelah kanan, dan bagian kecil disebelah kiri, Leopold III

teraba massa keras, bundar, melenting, Leopold IV divergen, Presentasi letak kepala,

1/5, punggung kanan, TBBA 2500 gram

Pemeriksaan Dalam:

Vulva/vagina tidak ada kelainan, portio tidak teraba, ostium pembukaan

lengkap. Bunyi jantung anak pada sisi kanan perut ibu sebelah bawah pusat dengan

frekuensi 144x / menit regular.

Pemeriksaan Penunjang :

Hemoglobin 10.0 g/dL

Leukosit 27.5 103/µL

Hematokrit 30.8%

I. DIAGNOSIS

G2P1A0 parturien aterm kala II dengan partus lama

J. PLANNING

R/ Partus buatan per vaginam

IVFD Line

5

Page 6: Vacum Extraction

Pasang Kateter

Skin test cefotaxime 22.25, cefotaxime inj. 22.40 WIB

Observasi KU, TTV, DJJ, His

Diberikan drip oksitosin 5 IU pukul 22.45 WIB

K. LAPORAN EKSTRAKSI VAKUM

1. Penderita dalam posisi litotomi

2. Dilakukan tindakan dan antiseptik di daerah vulva dan sekitarnya

3. Kandung kencing dikosongkan dan dan dilakukakn pemeriksaan dalam

Vulva dan vagina tidak ada kelainan

Pembukaan lengkap

Ketuban (-), sisa cairan jernih

Kepala st +3 UUK Kanan depan

4. Dilakukan anestesi lokal

5. Cup dilicinkan dengan parafin, dimasukkan kedalam jalan lahir dan diletakkan pada

kepala anak dengan cara 2 jari tangan kanan membuka labia mayora dan dengan 2

jari tangan kanan cup ditekan pada kepala anak. Dengan satu jari diperiksa apakan

ada jaringan serviks vagina yang terjepit. Seorang asisten perlahan-lahan

memompatekanan sampai 0,6 atm, dibiarkan 5 menit sampai terbentuk kaput

dengan baik

6. Tangan kanan memegang pengait untuk menarik, 3 jari tangan kiri dimasukkan ke

dalam jalan lahir untuk mengarahkan tarikan dengan cara telunjuk dan jari tengah

diletakkan pada pinggir cup, sedangkan ibu jari pada bagian tengah cup.

7. Dilakukan episiotomi mediolateral

8. Penarikan dilakukan saat ada his dan ibu disuruh mengedan

9. Arah tarikan mula-mula mendatar sampai subocciput dibawah simfisis. Kemudian

dibawa ke atas ke arah perut ibu, sehingga lahirlah ubun-ubun besar, dahi, mata,

hidung, mulut dan dagu pada perineum

10. Setelah seluruh kepala bayi lahir, cup dilepaskan dengan cara menghilangkan

tekanan, kemudian anak dilahirkan seperti biasa.

11. Jam 23.10 lahir bayi perempuan dengan ekstraksi vakum

BB 2800 gram, PB 47 cm, Apgar 1’:3, 5’:5

Disuntikkan oksitosin 10 IU intramuskular, kontraksi baik

12. Jam 23.15 lahir placenta spontan lengkap, perdarahan ± 250 cc

6

Page 7: Vacum Extraction

13. Dilakukan eksplorasi jalan lahir, terdapat ruptur perineum derajat III

14. Dilakukan penjahitan luka ruptur dan luka episiotomi

L. LAPORAN PARTUS (26 Maret 2013)

Pukul 22:50 : Pembukaan lengkap sejak pasien datang, ibu mules-mules

(His 3-4x/10’/40”)

Pukul 23:00 : Dilakukan Vacum Ekstraksi dan dipimpin untuk meneran

Pukul 23:10 : Bayi lahir spontan, jenis kelamin perempuan BB: 2800 gram, PB: 47cm

APGAR 1': 3, 5': 5 , kelainan kongenital tidak ada

Pukul 23:15 : Lahir plasenta secara spontan lengkap, panjang tali pusat 50 cm

Pukul 23:20 : Dilakukan pejahitan ruptur perineum derajat III sebanyak 6 jahitan dalam,

5 jahitan subkutis, 7 jahitan luar. Perdarahan ± 250 cc.

M. FOLLOW UP

Hari/Tanggal S O A P

Rabu,

27 Maret

2013

Mules,

nyeri luka

jahitan

KU : Baik, Kes :

CM

TD : 120/80

mmHg

N : 88 x/menit

R : 20x/menit

S : 36,5 ºC

ASI (-)/(-)

Abdomen : datar,

lembut, TFU 2 jari

bawah pusat,

kontraksi baik,

P2A0 partus

maturus lahir

dengan VE a/i

Kala II

Memanjang

Cefadroxil

(2x500mg)

Asam

Mefenamat

(3x500 mg)

Viliron (1x1)

7

Page 8: Vacum Extraction

perdarahan (+)

Locia (-)

Diuresis ± 250 cc.

Kamis,

28 Maret

2013

Nyeri luka

jahitan,

KU : Baik, Kes :

CM

T : 120/70

mmHg

N : 80 x/menit

R : 20x/menit

S : 36,5 ºC

ASI (+)/(+)

Abdomen : datar,

lembut, TFU 2 jari

bawah pusat,

kontraksi baik.

Perdarahan (+)

Lochia (+)

Diuresis ± 250 cc.

P2A0 partus

maturus lahir

dengan VE a/i

Kala II

Memanjang

Up DC

Cefadroxil

(2x500mg)

Asam

Mefenamat

(3x500 mg)

Viliron (1x1)

Jum’at,

29 Maret

2013

Tidak ada

keluhan

KU : Baik, Kes :

CM

T : 120/70 mmHg

N : 80 x/menit

R : 20x/menit

S : 37 ºC

P2A0 partus

maturus lahir

dengan VE a/i

Kala II

Memanjang

Cefadroxil

(2x500mg)

Asam

Mefenamat

(3x500 mg)

Viliron (1x1)

8

Page 9: Vacum Extraction

ASI (+/+)

Abdomen : datar,

lembut, TFU

diantara umbilikus

dan simfisi pubis,

kontraksi baik.

Perdarahan (+)

BAK/ BAB (+)/(+)

N. PROGNOSIS

Quo ad vitam : dubia ad bonam

Quo ad functionam : dubia ad bonam

9

Page 10: Vacum Extraction

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

EKSTRAKSI VAKUM

A. DEFINISI

Ekstraksi vakum adalah suatu tindakan bantuan persalinan di mana janin

dilahirkan dengan ekstraksi menggunakan tekanan negatif (daya hampa udara) dengan

alat vakum (negative-preasure vacuum extractor) yang dipasang dikepalanya. Hanya

sebagai alat ekstraksi tidak baik sebagai alat rotasi.

Pada ekstraksi vakum, keadaan fisiologis yang diharapkan adalah terbentuknya

kaput suksadeneum pada kepala janin sebagai kompensasi akibat penghisapan/

tekanan negatif. Kemudian setelah kepala menempel pada mangkuk vakum tarikan

dilakukan dengan bantuan tenaga dari ibu (bersamaan dengan saat his/ gerakan

mengejan) mengandalkan penempelan kaput tersebut pada mangkuk vakum.

Vakum memberi tenaga tambahan untuk mengeluarkan bayi, dan biasanya

digunakan saat persalinan sudah berlangsung terlalu lama dan ibu sudah terlalu capek

serta tidak kuat meneran lagi.

B. SYARAT EKSTRASI VAKUM

Ekstraksi vakum dapat dilakukan dengan syarat sebagai berikut :

1. Janin aterm, letak kepala, atau bokong

2. Janin harus dapat lahir pervaginam ( tidak ada disproporsi sefalopelvik)

3. Pembukaan serviks sudah lengkap (pada multigravida, dapat pada pembukaan

minimal 5 - 7 )

4. Kepala janin sudah engaged

5. Selaput ketuban sudah pecah, atau jika belum harus dipecahkan

6. Harus ada kontraksi uterus (his) dan tenaga mengejan ibu (reflex mengejan baik).

7. tidak boleh ada mukosa vagina atau jaringan servix yang terjepit antara ekstraktor

vakum dengan kepala janin

8. Penurunan kepala janin minimal Hodge II

9. Tekanan vakum sampai mencapai 50 mmHg

10

Page 11: Vacum Extraction

Gambar 1 : Kepala bayi turun ke panggul

C. ALAT EKSTRAKTOR VAKUM

Alat ekstraktor vakum terdiri atas:

1. Cup sejenis mangkuk dari logam yang agak mendatar dengan berbagai ukuran

biaswanya 3, 5, dan 7 cm (diameter 30 samapi dengan 60 mm) dengan lubang di

tengah-tengahnya. Ekstraktor utama yang ada terdiri dari mangkuk yang terbuat

dari karet yang lembut atau plastik dan bukan dari logam.

Dua macam ekstraktor vakum yang sering digunakan adalah mangkuk polimer

silikon dan mangkuk plastik sekali pakai yang lebih kecil.

2. Pipa / selang karet yang pada ujung yang satu dihubungkan dengan mangkuk dan

pada ujung yang lain dihubungkan dengan suatu alat penarik dari logam.

3. Rantai dari logam yang berhubungan dengan alat bundar dan datar; alat tersebut

dimasukan ke dalam rongga mangkuk sehingga dapat menutup lubangnya;

selanjutnya rantai dimasukan ke dalam pipa karet dan setelah ditarik kuat,

dikaitkan kepada alat penarik.

4. Pipa karet yang pada ujung yang satu dihubungkan dengan alat penarik dan

dengan ujung yang lain dengan botol penampung cairan yang terisap (lendir,

darah, air ketuban, dan sebagainya)

5. Manometer untuk membuat dan mengatur tekanan negatif dan pompa tangan atau

elektrik untuk mengisap udara, yang berhubungan dengan botol penampung dan

menyelenggarakan vakum antara mangkuk dan kepala janin.

11

Page 12: Vacum Extraction

Gambar 2: Ekstraktor Vacuum

Dalam pemakaian ekstraktor vakum, mangkok yang dipilih harus sesuai

dengan besarnya pembukaan, keadaan vagina, turunnya kepala janin dan tenaga untuk

tarikan yang dipelukan. Umumnya yang dipakai ialah mangkok dengan diameter 50

mm.

Macam-macam mangkok:

1. Mangkok logam : - malmstorm cup

- anterior cup

- posterior cup

2. Mangkok plastik : - plastik keras

12

Page 13: Vacum Extraction

- plastik lunak yang berasal dari bahan silicon

Gambar 3: Macam-Macam Mangkok

13

Gambar 3: Jenis-Jenis

Mangkok Dari Bahan Logam

Page 14: Vacum Extraction

Gambar 4 : Mangkok Dari Bahan Plastik

D. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN VAKUM EKSTRAKSI

Keuntungan vakum ekstraksi

1. Cup dapat dipasang waktu kepala masih agak tinggi, Hodge III atau kurang

dengan demikian mengurangi frekuensi SC

2. Tidak perlu diketahui posisi kepala dengan tepat, Cup dapat dipasang pada

belakang kepala, samping kepala ataupun dahi.

3. Tarikan tidak dapat terlalu berat. Dengan demikian kepala tidak dapat dipaksakan

melalui jalan lahir. Apabila tarikan terlampau berat cup akan lepas dengan

sendirinya.

4. Cup dapat dipasang meskipun pembukaan belum lengkap, misalnya pada

pembukaan 8-9 cm, untuk mempercepat pembukaan. Untuk ini dilakukan tarikan

ringan yang kontinu sehingga kepala menekan pada servik. Di samping itu cup

14

Page 15: Vacum Extraction

tidak boleh terpasang lebih dari ½ jam untuk menghindari kemungkinan

timbulnya perdarahan pada otak.

5. Vakum ekstraktor dapat juga dipergunakan untuk memutar kepala dan

mengadakan fleksi kepala (misalnya pada letak dahi).

6. Tenaga mengenai puncak kepala tidak terlalu kuat, kebutuhan anestesia

berkurang, mudah pemakaiannya, trauma perineum sedikit, dan memberi

kemampuan bagi kepala untuk menentukan jalan keluar dari panggul ibu.

7. Dapat digunakan untuk membuktikan adanya disproporsi sefalopelvik

8. Kini telah dikembangkan vakum dari karet yang kurang traumatik dan lebih

mudah penggunaannya.

Kerugian vakum ekstraksi

1. Traksi hanya dapat dilakukan ketika ada kontraksi rahim.

2. Pemakaian terbatas pada janin yang aterm.

3. Persalinan lebih lama dibandingkan ekstraksi cunam.Karena waktu yang

diperlukan untuk pemasangan cup sampai dapat ditarik relatif lebih lama

dibandingkan forceps ( ± 10 menit ). Cara ini tidak dapat dipakai apabila ada

indikasi untuk melahirkan anak dengan cepat misalnya pada fetal distress ( gawat

janin ).

4. Membutuhkan perhatian untuk memelihara kevakuman.

5. Alatnya relative mahal dibandingkan forceps biasa.

Morbiditas dan mortalitas rendah, tetapi sering terjadi pembentukan kaput.

15

Gambar 5. Pembentukan Kaput

Page 16: Vacum Extraction

Gambar 6 : Caput Succedaneum

E. INDIKASI EKSTRAKSI VAKUM

Pemakaian ekstraktor vakum memiliki indikasi yang sama dengan pemakaian

cunam, ditambah dengan: gawat bayi dengan syarat-syarat bagi cunam belum dan bagi

ekstraksi vakum sudah dipenuhi, dalam hal ini sectio sesarea kurang cepat untuk

menyelamatkan bayi. Prinsip: keadaan yang memerlukan pertolongan persalinan kala

dua yang dipercepat, karena jika diperlambat dapat membahayakan keadaan ibu dan

atau janin. Ekstraktor vakum hanya dapat digunakan pada persentasi belakang kepala.

Distosia presentasi belakang kepala.

F. KONTRAINDIKASI EKSTRAKSI VAKUM

Pemakaian ekstraksi vakum mempunyai kontraindikasi sebagai berikut:

1. Prematuritas karena kepala terlampau lembut dan mudah terjadi kerusakan

intrakranial.

2. Kelainan letak kepala janin

a) Letak muka karena bola mata dapat keluar dari orbita dan mengisi mangkok.

b) Letak dahi.

c) Kelainan putar paksi.

3. Disproporsi sefalopelvik.

4. Ruptura uteri membakat ( imminens).

5. Keadaan ibu dimana ibu tidak boleh mengejan, misalnya pada penyakit jantung

berat, preeklampsia berat, asma berat, dan sebagainya.

6. Fetal distres.

16

Page 17: Vacum Extraction

Ekstraksi vakum pada letak bokong dapat dilakukan apabila telah diyakini benar bahwa

tidak ada disproporsi sefalopelvik, pembukaan sudah lengkap, dan ada indikasi untuk

mengakhiri persalinan, misalnya : keadaan gawat janin.

G. TEKHNIK PEMASANGAN EKSTRAKTOR VAKUM

Tehnik pemasangan ekstraktor vakum adalah sebagai berikut:

1. Penderita diletakan dalam posisi litotomi.

2. Antisepsis genitalia eksterna dan sekitarnya. vulva dan sekitarnya dibersihkan

dengan kapas sublimat atau kapas lisol dan kemudian dengan tinctura jodii 2%.

Kandung kemih dan rektum harus kosong.

3. Anestesi regional (blok pudendus) pada kepala yang masih tinggi atau anestesi

lokal (infiltrasi) pada kepala yang sudah di dasar panggul. Jangan dilakukan

dalam narkose umum.

4. Apabila his tidak adekuat, diperbaiki dulu dengan infus ptosin atau suntikan

oksitosin 2,0 – 2,5 unit im.

5. Nilai kembali pembukaan, sifat serviks dan vagina, turunnya kepala dan posisi

kepala dengan empat jari dalam vagina.

Gambar 7: Menilai Penurunan Kepala ke dalam Rongga Panggul

6. Pilih mangkok yang akan dipakai. Mangkok yang akan dipakai harus disesuaikan

dengan besarnya pembukaan, keadaan vagina, turunnya kepala dan tenaga yang

diperlukan supaya tarikan berhasil. Dalam praktek umumnya mangkok nomor 5

paling sering digunakan.

7. Mangkok dicelup dalam air sabun steril atau dibasahi seluruhnya dengan spiritus

sabun (jangan memakai minyak karena licin dan mudah lepas) lalu dimasukan ke

dalam vagina.

17

Page 18: Vacum Extraction

Cara memasang mangkok :

a. Mula-mula mangkok dalam posisi agak miring dimasukan ke dalam introitus

vagina sambil menekan comisura posterior ke belakang dan kemudian

diselipkan ke dalam vagina.

b. Kemudian mangkok diputar sehingga menghadap kepala.

c. Dalam letak belakang kepala mangkok dipasang pada oksiput atau sedekat-

dekatnya. Bila oksiput tidak jelas letaknya atau persentasi lain, maka

mangkok dipasang dekat pada sakrum ibu, terutama bila kepala masih tinggi.

d. Letak mangkok pada kepala harus sedemikian rupa sehingga arah tarikan

nantinya tegak lurus dengan mangkok. Pada letak dahi diusahakan supaya

mata janin tidak tercekap oleh mangkok.

e. Periksalah apakah ada jaringan ibu yang terjepit (dengan satu atau dua jari

diperiksa di sekitar mangkok apakah ada jaringan serviks atu vagina yang

terjepit). Apabila ada jaringan terjepit maka ini harus dilepaskan dari jepitan.

1 2

3 4

Gambar 8 : Cara Meletakkan Mangkok Vakum

9. Lalu dipompa oleh pembantu (udara dikeluarkan) sehingga tercapai tekanan

negatif dalam botol, pipa-pipa dan mangkok. Kulit kepala janin disedot ke dalam

mangkok dan mangkok melekat pada kepala. Supaya mangkok melekat benar-

benar (ini sangat penting) mangkok harus diisi penuh dengan kulit dan jaringan

18

Page 19: Vacum Extraction

bawah kulit secara perlahan-lahan. Dengan pompa lekatan erat dicapai dengan

meningkatkan tekanan negatif dalam 3 tahap:

a. Mula-mula dipompa sampai minus 0,2 kg per cm persegi, tunggu 2 menit.

b. Lalu dipompa lagi sampai minus 0,4 kg per cm persegi, tunggu 2 menit

c. Akhirnya dipompa sampai minus 0,6 kg per cm persegi. Bila perlu dapat

ditambah lagi sampai minus 0,7 atau 0,8. Pemeriksaan dalam ulangan harus

dilakukan setiap kali setelah tekanan dinaikan

9. Setelah tekanan yang diinginkan tercapai masih ditunggu lagi 2 menit lagi

sebelum tarikan definitif dimulai bersama dengan his sambil wanita disuruh

meneran seperti pada persalinan biasa dengan kedua lengan wanita merangkul dan

menarik lipat lutut ke arah kepala ibu.Bila his sudah timbul sebelum tekanan yang

dikehendaki tercapai, ekstraktor vakum boleh ditarik ala kadarnya supaya kepala

lebih turun dan bila kemudian his hilang tarikan ringan diteruskan secara kontinu

agar kepala tidak naik kembali.

H. CARA TARIKAN PADA EKSTRAKTOR VAKUM

Tarikan definitif pada ekstraktor vakum sinkron dengan his dan tenaga

meneran. Di luar his tarikan definitif tidak boleh dilakukan karena kurang efektif. Jadi

tarikan pada ekstraktor vakum sifatnya berkal (intermittent). Dulu ekstraksi ini dipakai

juga dengan tarikan kontinu pada pembukaan kecil, misalnya 4 cm dengan mangkok

nomor 3, untuk mempercepat pembukaan. Akan tetapi sekarang usaha ini tidak

dilakukan lagi karena waktu tindakan terlampau lama dan dianggap berbahaya bagi

anak.

Arah tarikan harus sesuai dengan turunnya kepala (seperti pada cumam) dan

tegak lurus dengan mangkok :

Kepala tinggi → Arah tarikan ke dorsal

Kepala tengah → Arah tarikan datar

Kepala di dasar panggul → Arah tarikan ke atas (ventral)

19

Page 20: Vacum Extraction

Cara tarikan :

1. Mula-mula ekstraktor vakum ditarik oleh tangan kanan pada pegangan yang

berbentuk palang, sambil tangan kiri berusaha supaya mangkok tidak lepas dari

kepala. 3 jari tangan kiri dimasukkan ke dalam vagina: ibu jari ditempatkan ke

pinggir mangkok bagian depan, jari telunjuk dan jari tengah dikepala anak,

ventral dari mangkok. Apabila tangan kanan mengadakan ekstraksi, bersamaan

ibu jari menekan mangkok bagian depan kepada kepala. Jadi ada kerja sama

antara tangan kanan dan tangan kiri. Penarikan ekstraktor vakum dilakukan

bersamaan dengan pegangan 3 jari ini (drei-finger griff). Arah tarikan sesuai

dengan sumbu jalan lahir. Tarikan pada ekstraktor vakum sifatnya berkala,

sinkron dengan HIS dan tenaga meneran.

2. Setelah seluruh kepala lahir, bahu dan badan anak dilahirkan seperti biasa

kemudian ventil dilepas perlahan-lahan supaya udara masuk ke dalam botol dan

tekanan negatif hilang. Mangkok dapat dilepaskan dari kepala anak. Apabila

mangkok sukar lepas karena sangat erat hubungannya dengan kepala maka pipa

karet yang menghubungkan botol dengan pegangan dilepas terlebih dahulu.

Dengan ekstraktor vakum lahirnya kepala dapat diusahakan perlahan-lahan seperti

pada partus spontan. Karena itu perlukaan jalan lahir ringan.

3. Lamanya tindakan sebaiknya tidak melebihi 20 menit, maksimum 40 menit.

Ekstraksi yang terlampau lama dianggap berbahaya bagi janin.

1 2

3 4

20

Page 21: Vacum Extraction

5 6

Gambar 9 :Cara Melakukan Ekstraksi Vakum

Beberapa ketentuan mengenai vakum ekstraksi :

1. Cup tidak boleh di pasang pada ubun-ubun besar.

2. Penurunan tekanan harus berangsur-angsur.

3. Cup dengan tekanan negatif tidak boleh terpasang lebih dari ½ jam.

4. Penarikan waktu ekstraksi hanya dapat dilakukan pada waktu his dan ibu

mengedan.

5. Apabila kepala masih agak tinggi (H III) sebaiknya dipasang cup yang terbesar

(diameter 7 cm).

6. Cup tidak boleh dipasang pada muka bayi.

7. Vakum ekstraksi tidak boleh dilakukan pada bayi prematur.

I. KOMPLIKASI

Dengan dipenuhinya ayarat-syarat: pembukaan sudah lengkap atau hampir

lengkap, kepala janin sudah sampai Hodge III dengan tidak adanya disproporsi

sefalopelvik, janin dengan persentasi belakang kepala dan kepala janin tidak lembek

seperti pada maserasi atau prematuritas, bahaya atau timbulnya komplikasi tidak

benar. Yang mungkin terjadi ialah:

1. Pada ibu :

a. Robekan bibir cervik atau vagina karena terjepit antara kepala bayi dan cup.

b. Robekan kandung kencing dan rektum, fistula.

c. Komplikasi perdarahan karena atonia dan komplikasi infeksi.

2. Pada anak :

a. Cepalohematoma memerlukan pemantauan dan biasanya menghilang dalam 3-4

minggu. Dapat terjadi juga subgaleal hematoma.

21

Page 22: Vacum Extraction

Gambar 10. Subgaleal Hematoma

b. Perdarahan subaponeurotik.

c. Fetal distress.

d. Trauma janin.

e. Infeksi.

f. Ekskoriasi kulit kepala.

g. Asfiksi / anoksi.

h. Paresis / paralisis.

i. Fraktura tulang tengkorak.

j. Perdarahan intrakranial sangat jarang terjadi dan memerlukan perawatan

neonatus segera.

Perdarahan intrakranial pada neonatus merupakan salah satu komplikasi

serius yang saat ini telah banyak dilaporkan. Perdarahan intrakranial adalah yang

mengambil tempat pada rongga potensial di dalam rongga tulang kepala. Jenis

perdarahan intrakranial pada neonatus yang lahir dengan ekstraksi vakum yang

pernah dilaporkan meliputi: perdarahan epidural (ekstradural), subdural, dan

22

Page 23: Vacum Extraction

perdarahan subarakhnoid. Perdarahan intrakranial pada neonatus mempunyai arti

yang penting karena salah satu faktor penyebab kematian perinatal, atau cacat

fisik dan retardasi mental.

Tingginya angka kejadian perdarahan intrakranial dan gangguan fungsi

otak mengurangi kepopuleran ekstraksi vakum (ventouse) sebagai alat bantu

persalinan di negara-negara seperti: Amerika serikat, Inngeris, Kanada,

Australia, dan beberapa negara asia seperti: India, Malaysia, Singapura, dan

Filipina.

k. Abrasi kulit kepala (biasa dan tidak berbahaya) dan laserasi dapat terjadi.

Bersihkan dan periksa laserasi untuk menentukan apakah diperlukan jahitan.

Nekrosis sangat jarang terjadi.

l. Caput succedaneum artificialis akan hilang dalam beberapa hari.

Vakum ekstraktor dapat juga dipergunakan untuk melahirkan kepala waktu

SC. Untuk ini harus ada pompa listrik sehingga penurunan tekanan berangsur-

angsur dengan teratur. Dengan pompa listrik tekanan dapat diturunkan sampai -0,75

atm. Dalam waktu 60 detik.

Cara mengatasi komplikasi ekstraksi vakum:

1. Infus taransfusi

2. Antibiotik

3. Reposisi trauma

4. Menjahit perlukaan

J. KEGAGALAN EKSTRAKSI VAKUM

1. Ekstraksi vakum gagal jika:

a. Kepala janin tidak turun pada setiap tarikan.

b. Janin tidak lahir setelah tiga kali tarikan tanpa penurunan kepala atau setelah 30

menit.

c. Mangkok vakum terlepas dari kepala dua kali pada saat menarik kepala dengan

arah yang tepat dan dengan tekanan negatif maksimal.

d. Mangkok vakum terlepas, mungkin akibat tekanan negatif yang kurang, atau

peningkatan tekanan negatif terlalu cepat sehingga pembentukan kaput

suksadeneum tidak sempurna, atau ada bagian jaringan ibu yang terjepit, atau

23

Page 24: Vacum Extraction

ada kebocoran pada alat, atau kemungkinan adanya disproporsi sefalopelvik

yang tidak terdeteksi sebelumnya.

2. Setiap pelaksanaan ekstraksi vakum harus dianggap sebagai percobaan ekstraksi

vakum. Jangan terus melakukan ekstraksi vakum jika tidak terjadi penurunan

kepala janin pada setiap tarikan.

3. Jika ekstraksi vakum gagal, lakukan ekstraksi vakum dalam kombinasi dengan

simfisiotomi atau lakukan seksio sesarea

K. EKSTRAKSI VAKUM DAN SIMFISIOTOMI

Ekstraksi vakum dapat dilakukan dalam kombinasi dengan simfisiotomi pada

keadaan berikut:

1. Kepala janin minimal berada di stasiun 2 atau teraba tidak lebih dari 3/5 di atas

simfisis pubis.

2. Seksio sesarea tidak memungkinkan atau tidak dapat segera dilakukan.

3. Pelaksana tindakan berpengalaman dan ahli dalam melakukan simfisiotomi.

4. Ekstraksi vakum gagal atau diperkirakan gagal.

5. Tidak ada derajat disproporsi yang besar.

24

Page 25: Vacum Extraction

PERSALINAN DENGAN KALA II MEMANJANG

A. DEFINISI

Persalinan kala II memanjang (prolonged expulsive phase) atau disebut juga

partus tak maju adalah suatu persalinan dengan his yang adekuat namun tidak

menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala dan putaran paksi

selama 2 jam terakhir. Biasanya persalinan pada primitua dapat terjadi lebih

lama. Menurut Harjono, persalinan kala II memanjang merupakan fase terakhir dari

suatu partus yang macet dan berlangsung terlalu lama sehingga timbul gejala – gejala

seperti dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu serta asfiksia dan kematian janin dalam

kandungan (IUFD).

B. ETIOLOGI

Sebab – sebab terjadinya yaitu multikomplek atau bergantung pada pengawasan

selagi hamil, pertolongan persalinan yang baik dan penatalaksanaannya.

Faktor – faktor penyebabnya adalah :

1. Kelainan letak janin.

2. Kelainan – kelainan panggul.

3. Kelainan his dan mengejan.

4. Pimpinan partus yang salah.

5. Janin besar atau ada kelainan kongenital.

6. Primi tua.

7. Perut gantung atau grandemulti.

8. Ketuban pecah dini.

C. GEJALA KLINIK

1. Pada ibu

Gelisah, letih, suhu badan meningkat, berkeringat, nadi cepat, pernafasan cepat. Di

daerah lokal sering dijumpai : Ring v/d Bandl, edema vulva, edema serviks, cairan

ketuban berbau dan terdapat mekonium.

2. Pada janin

a. Denyut jantung janin cepat/hebat/tidak teratur bahkan negatif

b. Air ketuban terdapat mekonium, kental kehijau-hijauan dan berbau

25

Page 26: Vacum Extraction

c. Caput Succedeneum yang besar

d. Moulage kepala yang hebat

e. IUFD (Intra Uterin Fetal Death)

D. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan yang dilakukan pada ibu dengan kala II memanjang yaitu dapat

dilakukan partus spontan, ekstraksi vakum, ekstraksi forceps, sectio caesaria, dan lain-

lain. Penatalaksanaannya yaitu sebagai berikut :

1. Tetap melakukan Asuhan Sayang Ibu, yaitu :

Anjurkan agar ibu selalu didampingi oleh keluarganya selama proses persalinan dan

kelahiran bayinya. Dukungan dari suami, orang tua dan kerabat yang disukai ibu

sangat diperlukan dalam menjalani proses persalinan.

Alasan : Hasil persalinan yang baik ternyata erat hubungannya dengan dukungan dari

keluarga yang mendampingi ibu selama proses persalinan (Enkin, et al, 2000).

2. Anjurkan keluarga ikut terlibat dalam asuhan, diantaranya membantu ibu untuk

berganti posisi, melakukan rangsangan taktil, memberikan makanan dan minuman,

teman bicara dan memberikan dukungan dan semangat selama persalinan dan

melahirkan bayinya.

3. Penolong persalinan dapat memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan

anggota keluarganya dengan menjelaskan tahapan dan kemajuan proses persalinan

atau kelahiran bayi kepada mereka.

4. Tentramkan hati ibu dalam menghadapi dan menjalani kala II persalinan. Lakukan

bimbingan dan tawarkan bantuan jika diperlukan.

5. Bantu ibu memilih posisi yang nyaman saat meneran.

6. Setelah pembukaan lengkap, anjurkan ibu hanya meneran apabila ada dorongan kuat

dan spontan untuk meneran. Jangan menganjurkan untuk meneran berkepanjangan

dan menahan nafas

7. Anjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi

Alasan : Meneran secara berlebihan menyebabkan ibu sulit bernafas sehingga terjadi

kelelahan yang tidak perlu dan meningkatkan resiko asfiksia pada bayi sebagai akibat

turunnya pasokan oksigen melalui plasenta (Enkin, et al, 2000)

8. Anjurkan ibu untuk minum selama kala II persalinan

26

Page 27: Vacum Extraction

Alasan : Ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi selama proses persalinan

dan kelahiran bayi. Cukupnya asupan cairan dapat mencegah ibu mengalami hal

tersebut (Enkin, et al, 2000).

9. Adakalanya ibu merasa khawatir dalam menjalani kala II persalinan. Berikan rasa

aman dan semangat serta tentramkan hatinya selama proses persalinan berlangsung.

Dukungan dan perhatian akan mengurangi perasaan tegang, membantu kelancaran

proses persalinan dan kelahiran bayinya. Beri penjelasan tentang cara dan tujuan dari

setiap tindakan setiap kali penolong akan melakukannya, jawab aetiap pertanyaan

yang diajukan ibu, jelaskan apa yang dialami oleh ibu dan bayinya dan hasil

pemeriksaan yang dilakukan (misalnya TD, DJJ, periksa dalam).

E. MENDIAGNOSA KALA II PERSALINAN DAN MEMULAI MENERAN

1. Cuci tangan (Gunakan sabun dan air bersih yang mengalir)

2. Pakai sarung tangan DTT/steril untuk periksa dalam

3. Beritahu ibu saat, prosedur dan tujuan periksa dalam

4. Lakukan periksa dalam (hati-hati) untuk memastikan pembukaan sudah lengkap

(10cm) lalu lepaskan sarung tangan sesuai prosedur PI

5. Jika pembukaan belum lengkap, tentramkan ibu dan bantu ibu mencari posisi

nyaman (bila ingin berbaring) atau berjalan-jalan disekitar ruang bersalin. Ajarkan

cara bernafas selama kontraksi berlangsung. Pantau kondisi ibu dan bayinya dan

catatkan semua temuan dalam partograf

6. Jika ibu merasa ingin meneran tapi pembukaan belum lengkap, beritahukan belum

saatnya untuk meneran, beri semangat dan ajarkan cara bernafas cepat selama

kontraksi berlangsung. Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang nyaman dan

beritahukan untuk menehan diri untuk meneran hingga penolong memberitahukan

saat yang tepat untuk itu

7. Jika pembukaan sudah lengkap dan ibu merasa ingin meneran, bantu ibu mengambil

posisi yang nyaman, bimbing ibu untuk meneran secara efektif dan benar dan

mengikuti dorongan alamiah yang terjadi. Anjurkan keluarga ibu untuk membantu

dan mendukung usahanya. Catatkan hasil pemantauan dalam partograf. Beri cukup

minum dan pantau DJJ setiap 5-10 menit. Pastikan ibu dapat beristirahat disetiap

kontraksi

8. Jika pembukaan sudah lengkap tapi ibu tidak ada dorongan untuk meneran, bantu ibu

untuk memperoleh posisi yang nyaman (bila masih mampu, anjurkan untuk berjalan-

27

Page 28: Vacum Extraction

jalan). Posisi berdiri dapat membantu penurunan bayi yang berlanjut dengan

dorongan untuk meneran. Ajarkan cara bernafas selama kontraksi berlangsung.

Pantau kondisi ibu dan bayi dan catatkan semua temuan dalam partograf

9. Berikan cukup cairan dan anjurkan / perbolehkan ibu untuk berkemih sesuai

kebutuhan. Pantau DJJ setiap 15 menit, stimulasi puting susu mungkin dapat

meningkatkan kekuatan dan kualitas kontraksi. 

10. Jika ibu tidak ada dorongan untuk meneran setelah 60 menit pembukaan lengkap,

anjurkan ibu untuk mulai meneran disetiap puncak kontraksi. Anjurkan ibu

mengubah posisinya secara teratur, tawarkan untuk minum dan pantau DJJ setiap 5-

10 menit. Lakukan stimulasi puting susu untuk memperkuat kontraksi.

11. Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit upaya tersebut diatas atau jika kelahiran bayi

tidak akan segera terjadi, rujuk ibu segera karena tidak turunnya kepala bayi

mungkin disebabkan oleh disproporsi kepala-panggul (CPD).

12. Upaya mengedan ibu menambah resiko pada bayi karena mengurangi jumlah

oksigen ke plasenta. Dianjurkan mengedan secara spontan (mengedan dan menahan

nafas terlalu lama, tidak dianjurkan)

a. Jika malpresentasi dan tanda-tanda obstruksi bisa disingkirkan, berikan infus

oksitosin.

b. Jika tidak ada kemajuan penurunan kepala :

1) Jika kepala tidak lebih dari 1/5 di atas simfisis pubis atau bagian tulang kepala

di stasion (O), lakukan ekstraksi vakum atau cunam.

2) Jika kepala diantara 1/5-3/5 di atas simfisis pubis, atau bagian tulang kepala di

antara stasion (O)-(-2), lakukan ekstraksi vakum.

3) Jika kepala lebih dari 3/5 di atas simfisis pubis atau bagian tulang kepala di

atas stasion (-2) lakukan seksio caesarea.

28

Page 29: Vacum Extraction

BAB III

KESIMPULAN

1. Sampai saat ekstraksi vakum masih banyak digunakan walaupun di beberapa negara

metode ini sudah mulai ditinggalkan dikarenakan banyak menimbulkan efek pada bayi

diantaranya perdarahan perdarahan intrakranial, selain itu ekstraksi vakum dapat

menimbulkan efek maternal.

2. Untuk dapat melakukan ekstraksi vakum harus memenuhi syarat dan indikasi medik

serta tidak adanya kontra indikasi yang membahayakan bagi ibu dan anak.

3. Keuntungan penggunaan ekstraktor vakum adalah efek traumatik yang ditimbulkan

lebih ringan dari pada penggunaan forceps.

4. Sedangkan kerugiannya adalah waktu yang dibutuhkan untuk melakukan ekstraksi

vakum relatif lebih lama sehingga tidak dapat digunakan pada kasus gawat janin.

Selain itu biaya yang diperlukan cukup mahal.

5. Jika ekstraksi vakum mengalami kegagalan maka dapat dilakukan ekstraksi vakum

dikombinasikan dengan simfisiotomi atau lakukan sectio sesarea.

29