Engine Fuel System Cfm56-3

download Engine Fuel System Cfm56-3

of 42

  • date post

    15-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    2.987
  • download

    37

Embed Size (px)

Transcript of Engine Fuel System Cfm56-3

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Engine Fuel System CFM56-3 merupakan salah satu jenis system yang ada pada

engine CFM56-3 disamping system-system lainnya. Fungsi dari engine fuel system salah satunya adalah sebagai penyedia aliran fuel (fuel flow) kedalam engine dalam hubungannya dengan proses pembakaran dalam engine (combustion). Selain itu untuk mengontrol aliran fuel yang dibutuhkan untuk proses starting, acceleration dan lain-lain pada berbagai kondisi operasi engine. Agar proses ini berjalan dengan baik maka diperlukan beberapa komponen fuel system yang digunakan untuk mengirimkan dan mendistribusikan fuel hingga kedalam combustion chamber untuk proses pembakaran. Dalam fuel system ini terdiri dari 2 bagian/tipe yaitu fuel delivery system dan fuel distribution system. Dari kedua bagian tersebut memiliki fungsi masing-masing dalam distribusi fuel flow dari fuel tank hingga kedalam combustion Chamber. Fuel Delivery System merupakan system yang mengatur aliran fuel yang berassal dari feul tank untuk diteruskan lagi untuk fuel distribution system. Sedangkan Fuel Distribution System merupakan sistem yang melanjutkan fuel flow dari fuel delivery system untuk pembakaran di dalam combustion chamber engine. Fuel Delivery System dan Fuel Distribution System ini memiliki beberapa komponen yang mana tiap-tiap komponen memiliki fungsi dan operasional yang berbeda-beda satu sama lainnya namun sangat berhubungan erat dalam hal distribusi fuel low dari fuel tank hingga ke Combustion Chamber untuk proses pembakaran. Untuk itu sangat diperlukan pengetahuan mengenai cara kerja dari tiap-tiap komponen itu agar dapat diketahui dan dipahami mengenai bagaimana cara kerja fuel system tersebut. Selain itu bentuk serta lokasinya pun menjadi tolak ukur dalam memahami engine fuel system tersebut Sebagai penyalur fuel flow,engine fuel system tersebut memiliki peranan penting dalam penghasil thrust secara tidak langsung. Hal ini disebabkan pembakaran dalam combustion chamber akan berlangsung sempurna jika terdapat cukup fuel disamping udara dan api. Dengan demikian jika terjadi kerusakkan dalam fuel system tersebut1

2

maka dapat berpengaruh terhadap thrust yang dihasilkan dari engine tersebut. Untuk mengetahui dan menanganinya diperlukan pengetahuan tentang fuel system tersebut.

1.2

Maksud dan Tujuan Kerja Pratek Kerja praktek sebagai salah satu prasyarat dalam menempuh SKS yang ada di

dalam system pembelajaran Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjito wajib dilaksanakan oleh semua mahasiswa didalamnya. Selain itu sebagai langkah awal atau cikal bakal penyusunan skripsi. Adapun tujuan dilaksanakan kera praktek ini terdiri dari dua bagian yaitu tujuan umum dan tujuan khusus Tujuan umum o o o o Sebagai prasyarat dalam menempuh Sistem kredit Semester. Sebagai syarat untuk menempuh langkah selanjutnya yaitu Skripsi. Menerapkan atau mengaplikasikan teori-teori yang ada diperoleh di bangku perkuliahan dengan situasi riil yang ada dilapangan. Untuk memperoleh keterampilan dan pengetahuan diperoleh dibangku perkuliahan Tujuan khusus o o o o Mengetahui dan mengenal tentang engine CFM56-3 secara umum Mengetahui dan mengenal berbagai system yang ada dalam engine CFM56-3 secara umum Mengetahui komponen-komponen yang ada dalam engine fuel CFM56-3 Mengetahui bagaimana kerja engine fuel system tersebut dalam hal distribusi fuel flow dari fuel tank hingga masuk kedalam Combustion Chamber. yang tidak

1.3

Ruang Lingkup dan Batasan Masalah

3

Mengingat luasnya materi fuel system engine CFM56-3 maka penulis perlu membatasi pembahasan laporan ini. Dalam penyusunan laporan ini, penulis hanya menjelaskan tentang fuel system pada engine CFM56-3 yang ada di PT. Merpati Maintenance Facility Juanda Surabaya. Penulis hanya membahas berbagai komponen yang ada dalam fuel system tersebut yang terdiri dari gambaran umum komponen tersebut, fungsi dan cara kerjanya. Penulis juga membahas distribusi fuel flow dari fuel tank hingga masuk kedalam Combustion Chamber.

1.4

Metode Pengumpulan Data Dalam penyusunan laporan ini penulis menggunakan beberapa metode

pengumpulan data yang diperlukan, antara lain: 1.4.1. Study Literature (Metode Library Research) Merupakan metode pengumpulan data yang derdasarkan pada study kepustakaan yang digunakan yaitu dengan mempelajari buku-buku referensi dan spesifikasinya sebagai pedoman dalam penulisan laporan dari bidang yang diambil. 1.4.2. Study Observation (Metode Field Research) Merupakan suatu metode pengumpulan data yang diperoleh langsung dari lapangan, yaitu pengamatan dan pencatatan pada obyek penulisan secara langsung untuk mendapatkan bukti kebenaran dari study literature. 1.4.3. Wawancara Merupakan suatu metode pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan kepada pihak-pihak yang memiliki spesialisasi dalam bidang maintenance.

1.5

Sistematika Penulisan Guna mempermudah dalam mempelajari dan memahami Laporan Kerja Praktek

(KP) ini penulis menggunakan sistematika sebagai berikut.

1. BAB I PENDAHULUAN

4

Pada BAB ini akan dibahas sekilas mengenai latar belakang, tujuan dan manfaat, serta lingkup pembahasan masalah yang diambil oleh penulis dalam pelaksanaan Kerja Praktek. 2. BAB II PROFIL HEAVY SURABAYA BAB ini berisi tentang profil PT.Merpati Maintenance Facility yang menjelaskan tentang sejarah, visi dan misi, serta aktifitas bisnis dari perusahaan tersebut. 3. BAB III TINJAUAN UMUM Pada BAB ini berisi tentang profil Pesawat Boeing 737-300, Profil engine CFM56-3, kriteria fuel untuk Gas Turbine Engine, proses pembakaran Turbofan Engine, dan engine fuel system CFM56-3. 4. BAB IV PEMBAHASAN ENGINE FUEL SYSTEM CFM56-3 DI HEAVY MAINTENANCE PT. MMF JUANDA SURABAYA Dalam BAB ini dibahas tentang fuel engine sistem yang terdapat pada engine CFM56-3 yang ada di HEAVY MAINTENANCE PT. MMF Juanda Surabaya. Dalam hal ini penulis hanya mengamati bagian-bagian fuelsystem itu sendiri. 5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Dalam BAB ini penulis menjabarkan mengenai kesimpulan yang telah diperoleh setelah pelaksanaan Kerja Praktek, dan juga saran-saran baik untuk perusahaan maupun bagi pembaca laporan ini. MAINTENANCE PT. MMF JUANDA

BAB II PROFIL PERUSAHAAN PT. MERPATI NUSANTARA AIRLINES

5

2.1

Sejarah PT. Merpati Nusantara Airlines 2.1.1. 6 November 1958: Cikal Bakal Merpati Nusantara Airlines Perdana Menteri Ir. H. Juanda (alm.) meresmikan misi yang diemban TNI-AU sebagai jembatan udara di Kalimantan yaitu menembus daerah pelosok. Berhasilnya misi ini selanjutnya menjadi dasar bagi Pemerintah untuk mendirikan suatu perusahaan negara yang bergerak dalam lapangan jasa angkutan udara perintis di daerah-daerah. 2.1.2. 6 September 1962: Pendirian Perusahaan

PN. Merpati didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1962 yang merupakan tonggak sejarah perkembangan angkutan udara di tanah air. Kenyataan tersebut telah mendasari keputusan perlunya untuk dibentuk suatu perusahaan negara pada bidang jasa transportasi udara di Indonesia. Maka, mulai 6 September 1962 secara resmi berdirilah PN. Merpati. Tugas utama PN. Merpati adalah menyelenggarakan perhubungan udara domestik dan penerbangan serba guna, serta memajukan segala sesuatu yang berkaitan dengan angkutan udara dalam arti seluas-luasnya. Aset pertama yang dipakai beroperasi adalah dua pesawat Dakota DC-3 dan empat pesawat De Havilland Otter DHC-3 milik AURI, sedangkan modal kerjanya berjumlah 10 juta rupiah. Dengan modal awal ini, PN. Merpati ikut serta dalam pembangunan perekonomian nasional dalam bidang perhubungan udara dengan mengutamakan kepentingan rakyat.

2.1.3.

Awal Januari 1964: Aset PN. Garuda Indonesia eks N.V. De Kroonduif dari Irian Barat.

Pada awal tahun 1963, ketika Irian Jaya diserahkan oleh Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Indonesia, N.V. De Kroonduif yang merupakan perusahaan penerbangan Belanda di Irian Barat ikut pula diserahkan kepada PN. Garuda Indonesia Airways, termasuk 6 pesawat, yang terdiri dari tiga buah Dakota DC-3, dua Twin Pioneer dan sebuah Beaver. Karena Garuda Indonesia lebih memusatkan perhatian pada pengembangan usahanya sebagai flag carrier, maka semua koneksi penerbangan dan fasilitas teknisinya di Irian Barat dihibahkan kepada PN. Merpati. Pada tahun yang sama, PN. Merpati memperluas jaringan operasinya dengan menghubungkan Jakarta - Semarang, Jakarta Tanjung Karang, dan Palangkaraya - Balikpapan di samping membuka rute baru di Irian Barat. Pada tahun 1969, PN. Merpati dibagi menjadi dua daerah operasi,

6

yaitu Operasi MIB (Merpati Irian Barat) dan MOB (Merpati Operasi Barat), yang mencakup Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Sejalan dengan itu, PN. Merpati memasuki babak baru dengan berganti nama menjadi Merpati Nusantara Airlines (MNA). Bagaikan tuah keberuntungan, sejak saat itu Merpati Nusantara Airlines menjadi nama yang begitu mengena di hati masyarakat Indonesia. 2.1.4. 1970: Awal Perkembangan Merpati Nusantara Airlines

Mulai tahun 1970, Merpati Nusantara Airlines mampu mengembangkan operasinya dengan menerbangi rute-rute jarak pendek (feeder line operation), melainkan juga rute-rute jarak menengah (semi trunk operation), dan jauh. 2.1.5. 1974: Penerbangan Perintis

Secara resmi misi penerbangan perintis diserahkan oleh Pemerintah kepada Merpati Nusantara Airlines, sehingga diemban misi sebagai agen pembangunan dengan tujuan membuka isolasi daerah-daerah terpencil, serta menghubungkan kota-kota yang sulit dijangkau oleh sarana transportasi lainnya. 1. Membantu melancarkan roda administrasi Pemerintah. 2. 3. 4. Melancarkan kegiatan ekonomi dan penerbangan di antar daerah. Menunjang secara efektif di bidang Hankam. Ikut menunjang terwujudnya Wawasan Nusantara di bidang Poleksosbud. Pada tahun 1974, Penerbangan Perintis yang subsidi Pemerintah secara resmi diserahkan pula