7th Edition the Planners E-portfolio

download 7th Edition the Planners E-portfolio

of 13

  • date post

    03-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    49
  • download

    3

Embed Size (px)

description

Majalah ini merupakan majalah yang disusun oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Perencanaan WIlayah dan Kota ITB. Tema yang diusung pada edisi kali ini yaitu mengenai Konsep Pengembangan Kawasan Agropolitan.

Transcript of 7th Edition the Planners E-portfolio

  • 1

  • 2 3

    Identifikasi Sektor-Sektor Unggulan dan Sektor-sektor Pendukung di Kawasan Agro-politan Pangalengan

    Manajemen Strategis Kebijakan Publik Sebagai Solusi Permasalahan Pengembangan Agropolitan di Kawasan Aagro-politan Sangsaka

    Pengembangan Agribisnis di Perdesaan serta Pentingnya Tataniaga dalam Pertanian

    Penilaian Kapasitas Komunitas Kelompok Usaha Tani Masyarakat Desa di Kawasan Ag-ropolitan Ciwidey

    Kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agrobisnis.

    Kawasan agropolitan

    (Pasal 1, ayat 24, UU No 26 Th 2007)

  • 4 5

    Sektor Unggulan

    Adapun yang termasuk ke dalam se-ktor unggulan ini adalah perkebunan, holtikultura, dan peternakan.

    Dari segi jenis produksi, Pangalengan memiliki beragam komoditas. Untuk sektor hortikultura, komoditas terban-yak yang dihasilkan yaitu kubis, sawi, tomat, dan cabai, dan kentang sebagai produk unggulan. Untuk sektor peter-nakan, komoditas utamanya adalah susu, dengan hewan ternak unggulan sapi perah. Selain itu, terdapat juga ternak ayam, domba, ikan, cacing, dan burung, dengan produk pada umum-nya berupa telur dan daging. Semen-tara untuk sektor perkebunan, ko-moditas unggulan adalah teh, dengan komoditas lain yaitu kopi.

    Faktor produksi yang digunakan keti-ga sektor meliputi lahan, tenaga kerja, dan modal. Untuk sektor hortikultura, mayoritas lahan yang digunakan ada-lah milik pribadi, dimana 75% land use di kecamatan ini diperuntukkan bagi kegiatan hortikultura. Pada sek-tor peternakan, mayoritas lahan yang digunakan merupakan milik pribadi. Sementara pada sektor perkebunan,

    KAWASANAGROPOLITANPANGALENGAN

    IDENTIFIKASI SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN DAN SEKTOR-SEKTOR PENDUKUNG DI

    Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian perekonomiannya di-tunjang dari sektor pertanian. Namun semakin tingginya laju urbanisasi yang terjadi saat ini menyebabkan marakn-ya konversi lahan kawasan pertani-an menjadi perkotaan. Hal ini dapat menyebabkan turunnya produktivitas pertanian serta mempengaruhi ket-ahanan pangan dalam negeri. Salah satu solusi yang dapat dilakukan se-bagai upaya mencegah hal tersebut adalah dengan melakukan pengem-bangan berbagai kawasan agropoli-tan.

    Namun demikian, di samping besarn-ya potensi yang ada di kawasan Pan-galengan, terdapat beberapa faktor yang menjadi kendala dalam produk-tivitas dan pemaksimalan kinerja baik di sektor perkebunan, hortikultura, energi, peternakan maupun sektor pariwisata. Faktor-faktor inilah yang dapat memicu kurang optimalnya pengembangan Pangalengan sebagai kawasan agropolitan. Untuk itu, ter-lebih dahulu diperlukan adanya iden-tifikasi pada setiap sektor tersebut.

    Studio 3, Studio Proses Perencanaan, 2012

  • 6 7

    lahan yang digunakan untuk kegiatan perkebunan kebanyakan merupakan milik PTPN. Untuk tenaga kerja, keti-ga sektor unggulan menyerap tenaga kerja lokal, dengan 66% penduduk ke-camatan ini bekerja di bidang hortikul-tura (KBDA, 2010). Permodalan untuk sektor hortikultura mencakup bibit, pupuk, pestisida, peralatan, dan biaya perawatan lainnya. Untuk sektor pe-ternakan, permodalan mencakup pa-kan, peralatan, dan biaya perawatan. Modal awal didapatkan dari pribadi, sementara faktor produksi lainnya didapat dari bantuan KPBS. Adapun permodalan untuk sektor perkebunan tidak jauh berbeda dengan sektor hor-tikultura. Untuk ketiga sektor unggu-lan, teknologi yang digunakan masih minim dan mengandalkan tenaga ker-ja manusia.

    Dari segi sarana dan prasarana, sektor hortikultura memiliki kondisi sarana dan prasarana yang cukup baik. May-oritas jalan memiliki lebar yang cukup dilewati kendaraan besar dan sudah beraspal. Moda angkutan juga berag-am, dengan moda yang paling banyak digunakan adalah mobil bak. Semen-tara sarana pengolahan produksi tidak ada karena hasil produksi langsung di-jual. Di sektor peternakan, kondisi sa-rana dan prasarananya masih kurang baik. Dari hasil kuesioner, diketahui bahwa mayoritas moda angkutan yang digunakan untuk mengangkut adalah sepeda motor sebesar 42%, sementa-ra sekitar 39% hanya dengan berjalan kaki. Untuk sektor perkebunan, kondisi sarana dan prasarana sudah cukup baik, meskipun masih ada beberapa yang kondisinya buruk, terutama jalan. Mayoritas jalan tersebut dibangun

    oleh pihak perkebunan sendiri.

    Dari segi kelembagaannya, pada sek-tor peternakan terdapat lebih dari 17 lembaga yang terlibat dalam mana-jemen peternakan. Dari keseluruhan, KPBS merupakan lembaga yang pal-ing berpengaruh. KPBS merupakan tempat peminjaman modal, penye-diaan alat, pengadaan penyuluhan, pengecekan kualitas susu, penanggu-lanan hewan sakit, dan penyalur bagi para peternak. Berbeda dengan sektor peternakan, pada sektor hortikultura dan perkebunan tidak ada koperasi, hanya terdapat kelompok-kelompok tani hortikultura dan perkebunan yang berjumlah sekitar 50 kelompok, den-gan 2 kelompok tani yang sudah maju dan mempunyai brand sendiri, yaitu Kelompok Kopi Rahayu dan Desa Pa-sirmulya. Tidak adanya koperasi yang menopang petani disebabkan pen-gelolaan koperasi yang buruk yang menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat tani di Pangalengan pada koperasi.

    Dari seluruh aspek pada setiap sektor di Pangalengan terdapat faktor-faktor yang menghambat. Di sektor peterna-kan yaitu teknologi yang minim, ban-yaknya penyakit hewan ternak, dan sarana dan prasarana penunjang yang kurang optimal, tidak adanya stand-ardisasi harga susu, dan kesenjangan sosial ekonomi peternak besar dan kecil. Faktor penghambat pada sektor holtikultura adalah hama tanaman, harga jual yang flukluatif, kurangnya modal para petani kecil, kurangnya pengetahuan mengenai pertanian, gangguan psikologis pasca bencana, serta kurangnya kepercayaan petani

    terhadap lembaga. Pada sektor perke-bunan teh, faktor-faktor tersebut ada-lah adanya hama tanaman, pencaplo-kan lahan menjadi perumahan, dan ketidakseragaman harga, sedangkan pada perkebunan kopi, kurangnya publikasi kopi olahan, sulitnya legal-itas ekspor internasional, kurangnya pengetahuan petani kopi, rendahnya daya beli petani terhadap mesin pen-golah, dan kurangnya branding kopi olahan menjadi faktor-faktor yang menghambat produksi kopi.

    Sektor Pendukung

    Sektor yang termasuk ke dalam sektor pendukung di kawasan agropolitan Pangalengan di antaranya adalah sek-tor energi, lingkungan, dan pariwisata.

    Dari hasil analisis pada sektor ener-

    gi didapatkan bahwa pengetahuan penduduk Pangalengan mengenai PLTA, PLTG, dan biogas sudah mera-ta. Selain itu, dari hasil kuesioner, ha-nya sebanyak 33,08% responden saja yang merasakan dampak lingkungan akibat pembangkit listrik yang berupa polusi, gempa, dan bising. Pengelola pembangkit listrik memang memberi dampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan bantuan kepada pen-duduk di Pangalengan. Namun, se-banyak 77,18% responden kuesioner mengaku tidak mendapatkan bantu-an tersebut. Persebaran pemberian bantuan juga tidak merata. Dari has-il analisis juga diketahui bahwa Desa Pangalengan memiliki potensi biogas yang besar karena banyaknya kotoran hewan dari peternakan, tetapi kurang-nya alat dan pembinaan menyebab-kan pengembangannya terhambat.

  • 8 9

    Selanjutnya berdasarkan hasil peneli-tian yang telah dilakukan terhadap se-ktor lingkungan dapat diambil beber-apa kesimpulan. Bencana gempa yang pernah terjadi memiliki pengaruh ter-hadap hasil kuantitas maupun kulitas pada sektor-sektor unggulan. Baik petani, peternak, maupun hewan ter-nak terganggu dari segi aktivitas mau-pun psikologis. Adapun limbah yang ada di kawasan ini dapat mencemar-kan lingkungan, salah satunya mengu-rangi kesuburan tanah. Namun limbah peternakan yang berupa kotoran ter-nak dapat menjadi sumber energi bi-ogas dan dijadikan pupuk. Selain lim-bah, penggunaan pestisida berlebih oleh petani juga dapat mengurangi kesuburan tanah dan membuat hasil produksi mengandung bahan kimia. Tetapi pengetahuan masyarakat akan bahaya tersebut masih belum cukup

    baik. Dari hasil analisis aspek guna lahan, ditemukan perubahan penggu-naan lahan berupa pembukaan lahan dari hutan menjadi perkebunan yang dipicu oleh masterplan agropolitan serta perubahan lahan perkebunan dan hortikultura menjadi perumahan karena bertambahnya jumlah pen-duduk.

    Pada sektor pariwisata, terdapat tiga objek pariwisata yang menjadi fokus yaitu Cibolang Hot Spring, Situ Cile-unca, dan Makam Bosscha. Mnajemen objek-objek wisata tersebut rata-ra-ta sudah cukup baik, tetapi masih kurang publikasi sehingga jumlah kunjungan tidak terlalu tinggi. Sara-na dan prasarana pada objek-objek wisata tersebut juga kurang baik. Dari segi ekonomi, sektor pariwisata mem-berikan membuka lapangan kerja

    baru bagi penduduk lokal. Pemerin-tah sendiri berperan dalam membuat kebijakan pengembangan pariwisata dan membangun kerjasama dengan swasta dan investor dalam mengem-bangkan daerah pariwisata ini. Selain itu, pemerintah kini menekankan pada community development (pengem-bangan masyarakat) agar masyarakat secara mandiri dapat meningkatkan kesejahteraannya, dengan salah satu contoh programnya yaitu Kampanye Sadar wisata.

    Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dan sasaran-sasaran yang ada, sektor-sektor unggulan yang dinilai sudah optimal adalah sektor hortikultura dan perkebunan, semen-tara sektor peternakan dinilai belum optimal. Sektor-sektor pendukung yang terdiri atas sektor energi, pari-wisata dan lingkungan sendiri juga dinilai belum optimal.

    Secara keseluruhan, berdasarkan pe-nelitian yang dilakukan, Kecamatan Pangalengan telah memenuhi pers-yaratan kawasan agropolitan menurut Master Plan Agropolitan Kecamatan Pangalengan 2006-2010. Pertama, Kecamatan Pangalengan memiliki sumberdaya lahan